Perempuan dan laki-laki

1 May 2010

Pada hari Kartini yang lalu, ananda berkegiatan bersama untuk memaknai secara kongkrit apa sih yang dimaksud dengan kesetaraan. Dalam kelompok kecil yang anggotanya diragamkan (laki-laki dan perempuan, kelas 1-2 dan 3), ananda bercurah pendapat mengenai kegiatan atau pekerjaan apa saja yang biasa dilakukan oleh laki-laki (ditulis dalam satu kolom) dan perempuan (ditulis dalam kolom lain). Isinya menarik untuk dibaca. Laki-laki : main remot kontrol, main bola, jadi pegawai negeri. Perempuan : main Barbie, main hulla hoop, jadi suster.

Setelah selesai, judul kolom ditukar. Tulisan “laki-laki” dijadikan judul kolom perempuan, dan tulisan “perempuan” dijadikan judul kolom laki-laki. Sontak pada protes. Haaaahhh?? Kok dibalik, bu? Ihh…. aneh dong! Begitu komentar mereka. Lalu Ibu Sulis mengajak mereka melihat bersama-sama.

+ Anak perempuan bisa ngga main bola?

= Bisa, buuu…

= Anak perempuan boleh ngga main mobil-mobilan?

= Boleh, buuu…

+ Perempuan bisa ngga jadi pegawai negeri?

= Bisa, buuu…

+ Anak laki-laki boleh ngga main boneka?

= Boleh, buuu…
sambil ada yang berbisik ke teman yang duduk di sebelahnya (tapi dengan suara yang cukup keras..)
= hihihi….. tapi aku ngga mau!!
:-p

Setelah berdiskusi, ditayangkan foto laki-laki dan perempuan dengan berbagai profesi: perawat laki-laki, pengemudi bis TransJakarta perempuan, penjahit laki-laki, astronot perempuan, laki-laki yang sedang mencuci piring, perempuan sedang mengecat rumah, ayah menyuapi bayinya, dll.

Yang menarik, keesokan harinya mereka dengan sadar mengajak teman dari gender yang berbeda untuk bermain bersama. Ananda kelas 2 terlihat asyik bermain bola, sementara ananda kelas 1 sibuk bermain polisi-polisian. Kalau ananda kelas 3 siy sudah dari dahulu selalu bermain bersama tanpa pembedaan gender.

Lebih menarik lagi ketika teramati bahwa dalam kedua kegiatan tsb. adalah :

= kegiatan yang dilakukan “tipikal” kegiatan anak laki-laki. Apakah ini indikasi perempuan lebih ‘siap’ keluar dari zona nyamannya?

= dalam permainan polisi-polisian, umumnya anak laki-laki yang menjadi polisi. Apakah ini indikasi bahwa bahkan ketika perempuan sudah keluar dari zona nyamannya, peran yang “diberikan” adalah peran yang tidak sentral? Hmmm..

Kesetaraan gender adalah pola pikir yang merupakan hasil pendidikan dan pembiasaan. Kita perlu memulai dari hal-hal yang sederhana, seperti memberikan kesempatan yang setara berdasarkan kebutuhan dan potensi masing-masing anak, memberikan target pencapaian yang didasarkan pada kemampuan dan potensi diri, menumbuhkan rasa menghargai satu sama lain, membiasakan bekerja sama dengan siapa saja.

Seringkali tanpa sadar orang dewasa mengajarkan ketidaksetaraan dengan berkata kepada ananda laki-laki : “Jangan nangis ah, cengeng kayak anak perempuan!”, atau mengomentari “Ini anak cerewet banget, seperti perempuan”. Sebaliknya, kalau ananda perempuan suka kegiatan fisik sering dikritik, karena seperti anak laki-laki. Pelabelan seperti itu membentuk pola pikir dalam benak ananda bahwa anak perempuan itu cengeng, cerewet, lemah. Padahal menangis adalah cara mengekspresikan emosi yang sehat bila dilakukan pada saat yang tepat, baik oleh laki-laki maupun perempuan, oleh orang dewasa sekalipun. Kegemaran berbincang adalah pembawaan yang dapat muncul pada laki-laki maupun perempuan, dan bila yang dibicarakan adalah hal yang positif patutkah ananda laki-laki “dibungkam” dengan komentar seperti itu?

Mari kita bertanya pada diri sendiri, bagaimana konsep diri kita tentang kesetaraan? Seandainya kita memiliki dua anak, laki-laki dan perempuan, dan kita cuma sanggup menyekolahkan salah satu dari mereka, yang mana yang akan didahulukan? Apa yang akan mendasari pertimbangan kita? Jenis kelamin? Kepribadian ananda? Tingkat kecerdasan?

Jadi, apa makna kesetaraan bagi anda? 😉

Catatan :
Ide kegiatan dipulung dari gender awareness trainingnya Bapak Mansur Faqih

Copyright © Sekolah Gemala Ananda, dikembangkan dan dikelola oleh EvolutionTeams

.