Dalam Kalah Ada Belajar

6 February 2010

Tim Sepak Bola Gemala Ananda yang terdiri dari siswa kelas 1 dan 2 bertanding untuk pertama kalinya. Kalau biasanya berlatih di lapangan mini dan di dalam ruangan, kali ini mereka bertanding di lapangan rumput di Perguruan Al Izhar. Begitu kali tiba di lokasi, semua mata membesar. “Pak… lapangannya gede banget!!” adu mereka pada Pak Wardoyo, sang pelatih.

Merekapun turun ke lapangan, melakukan pemanasan dan mencoba lapangan. Wajah terlihat memucat ketika lawan mereka, tim tuan rumah, turun ke lapangan. Bagaimana tidak, tim tuan rumah turun dengan percaya diri yang sangat tinggi, dengan dukungan suporter yang sangat banyak. belum lagi mereka berseragam lengkap, sementara tim Gemala tampil dengan seragam olah raga sehari-hari. Maklum.. tidak sempat memesan seragam bola karena undangannya cuma sekitar dua minggu sebelum hari H. Dengan sabar Coach Wardoyo membesarkan hati mereka. Di pinggir lapangan para ibu juga heboh menyemangati ananda tercinta.

Pertanding berlangsung tidak imbang, meski pada babak pertama tim Gemala bisa bertahan cuma kebobolan satu gol. Babak kedua dimulai, stamina sudah menurun. Lha di sekolah biasa lari di area kecil, yang sebentar saja berlari sudah harus balik arah… hehehe… Jadilah gawang Gemala kebanjiran tujuh gol lagi :-p

Ketika pertandingan selesai, atlet Gemala menunduk lesu, namun tetap menyalami tim lawan yang tentunya sangat gembira meraih kemenangan. Namanya juga bocah, sambil keluar lapangan mulailah menyalah-nyalahkan.. hehehe.. Tim lawan begini, mereka begitu. Kawan sendiri tidak luput dari tudingan, si itu sih begini, si anu tuh begitu. Karena itu keesokan harinya diadakan evaluasi tim, agar pengalaman bertanding ini juga menjadi pembelajaran bagi semua.

Pada awal sesi evaluasi, semua diminta memberi masukan mengenai pertandingan kemarin. Maka mengalir deraslah penilaian yang mengarah pada “mereka” dan “dia”, antara lain:

  • Lawannya curang!
  • Waktu rebutan bola mereka mendorong!
  • Mereka menendang aku!
  • Masa mereka pake sliding, sampe aku jatuh.
  • Mereka ngomongnya kasar, masa waktu aku rebutan bola trus jatuh dia bilang “mampus lu!”.
  • Penonton mereka sombong! Masa mereka bilang mereka hebat!

Hmmm.. kalau menurut “teori pendidikan”, ini namanya locus of controlnya eksternal. Kalau ada apa-apa, yang pertama disalahin adalah orang lain. Kesempatan emas niy untuk mengajak ananda belajar mengevaluasi diri, dan mulai menggeser locus of controlnya ke internal. Maka terjadilah diskusi yang sangat menarik berikut :

+ Owkey.. itu tadi penilaian kita tentang mereka dan tentang teman kita. Coba sekarang ditanya ke diri sendiri, kemarin aku mainnya bagaimana ya?

* Pada diem semua.

= Mereka curang bu!

*halah, kok tentang orang lain lagi!!

+ Itu kan tadi sudah disebutin. Sekarang coba ditanya ke diri sendiri.. kemarin aku mainnya bagaimana ya?

* pada diam lagi… lihat-lihatan, sampai Monang angkat tangan.

= Sebenernya kemarin aku mainnya agak takut bu..

+ Terima kasih Monang, sudah berani jujur pada diri sendiri. Yang bikin kamu merasa takut apa ya kemarin?

= Mereka badannya gede-gede bu..

*halah.. padahal ini anak tinggi gede dibandingin temennya satu tim. Gimana yang kunyil2 yaa? :-p

Tapi… luar biasa! Begitu Monang berani bicara jujur, yang lain ketularan..

= Sebenernya aku juga agak takut siy…
= Aku juga bu…
= Aku juga…

Akhirnya keluarlah butir refleksi dari mulut mereka sendiri :

= kita mainnya kaku.
= aku waktu dapet bola ngga langsung nendang
= kita larinya kurang maju
= kita nendangnya kurang keras, kurang jauh
= kita larinya kurang cepat
= aku takut kena bola, tendangan mereka keras banget.
= aku mau usaha jagain di depan gawang sendiri tapi bolanya kena kaki aku malah masuk gawang..

Rasanya banggaaaa banget melihat krucil-krucil itu berhasil berdialog dengan dirinya sendiri dan belajar untuk kritis terhadap diri sendiri. Lelah rasanya melihat bangsa ini ribut saling menyalahkan, tetapi tidak pernah mulai dengan mengevaluasi diri sendiri. Lha anak SD aja bisa kok diajak mawas diri.. hehehe..

Tim kemudian berdiskusi bahwa salah satu strategi menjatuhkan mental lawan adalah dengan kata-kata. Jadi, kata Coach Wardoyo, cuekin saja kalau lawan kita mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan atau menyombongkan diri.

Hehehe.. dipikir-pikir mungkin ini adalah contoh ekses dari pembiasaan berbahasa sopan di Gemala, mereka sopaaaan banget… πŸ™‚

Coach Wardoyo juga menjelaskan bahwa ada cara mengganjal yang diperbolehkan menurut aturan persepakbolaan. Ananda dijanjikan akan diajari cara mentackle dan sliding yang diperbolehkan menurut aturan. Selama ini materi latihan belum nyampe ke situ, lha wong baru belajar main futsal selama 3 bulan… :-p

Terakhir, tim membahas bagaimana gawang bisa sampe bobol 8 kali. Tentu penjaga gawang lah yang disalahin. Hmmm.. peluang emas lagi niy buat belajar. Jadilah kamera, gelas dan spidol dijadikan simbol gawang, penyerang dan tim Gemala.

+ Kalo penyerang lawan bawa bola ke arah gawang kita, pemain tengah kita mesti ngapain ya?

= Ngerebut bola.

+ Kalo pemain tengah ngga berhasil trus si lawan maju terus bawa bola ke arah gawang, siapa yang mesti nyetop?

= Pemain belakang…

+ Kalau pemain belakang ngga bisa juga ngerebut bola, siapa yang harus bertahan?

= Penjaga gawang..

+ Nah jadi kalo bolanya lawan bisa nyampe ke gawang kita, itu karena pemain tengah dan pemain belakangnya….???

= … ngga bisa ngerebut bola!

+ Jadi penjaga gawang adalah pertahanan terakhir kalau….

= …pemain tengah dan belakang ngga bisa ngerebut bola..

+ Jadi tugas siapa ya bertahan agar gawang kita ngga dibobol lawan?

= Tugas semua, bu…

Bingoooo!!!! πŸ™‚

Semoga dengan terus berlatih dan dibimbing untuk menjadi pembelajar yang kritis, ananda bisa tumbuh menjadi individu dan atlet yang sportif dan bermental juara :’)

Go Gemala team!! Go, go, go!!!! πŸ™‚

Copyright © Sekolah Gemala Ananda, dikembangkan dan dikelola oleh EvolutionTeams

.