Bermain dan Perkembangan Anak 6 – 12 Tahun

2 June 2014

Mengapa anak usia sekolah dasar masih perlu bermain?

Bermain bagi anak-anak usia 6 – 12 tahun tetaplah cara yang paling efektif untuk belajar. Melalui kegiatan bermain, baik dalam kerangka belajar di kelas maupun dalam waktu istirahatnya, siswa SD mengasah dan menyerap banyak hal: keterampilan motorik, kemampuan bersosialisasi dan komunikasi, kecerdasan interpersonal, dan masih banyak lagi.

Perbedaan mendasar dalam konsep bermain antara balita dan anak usia 6 – 12 tahun adalah bergesernya sifat permainan menjadi lebih sosial dibandingkan ketika masih balita. Secara ideal, permainan siswa sekolah dasar melibatkan banyak pemain, keterampilan yang diasah juga lebih kompleks, durasi permainan sekali main lebih lama. Ini semua sesuai dengan tahapan perkembangan anak usia sekolah dasar.

Jenis permainan yang disenangi anak usia 6 – 12 tahun berkisar antara lain:

  • permainan ketangkasan, seperti kasti, galasin, lompat tali, dan lain-lain.
  • permainan tradisional yang diiringi tarian dan nyanyian, seperti permainan ular naga, Cublak Cublak Suweng, dan lain-lain.
  • bermain peran (role play), seperti sekolah-sekolahan, berkemah, travelling dan lain-lain.
  • permainan asah memori, seperti main kartu, tebak-tebakan dan lain-lain
  • permainan virtual dan digital, seperti digital games dan lain-lain.

Jenis permainan anak terus berkembang sesuai zamannya. Meskipun kini begitu marak permainan dalam bentuk digital yang bersifat lebih individual, bermain bersama teman dan non-virtual tetaplah dinilai sebagai cara sangat tepat untuk memperolah manfaat sebanyak-banyaknya dari kegiatan bermain. Sedangkan untuk siswa kelas V dan VI, karena perkembangannya sudah lebih lanjut, permainan yang semakin diminati adalah permainan yang mengasah kemampuan kognitif, seperti kemampuan mengingat, kemampuan menebak dengan cepat dan lain-lain.

Pada kenyataannya, anak lebih efektif menyerap sesuatu dalam situasi belajar yang menyenangkan dan melalui bentuk kegiatan yang sifatnya “bermain”. Situasi pembelajaran di Gemala Ananda, oleh karenanya banyak menggunakan pendekatan bermain, misalnya role play. Selain mengasah keterampilan bicara, kemampuan bersosialisasi, dan logika, role play juga mengasah kemampuan menyelesaikan masalah, berkolaborasi, dan imajinasi/kreativitas anak. Hal-hal tersebut kini ditengarai menjadi “tolok ukur” kompetensi pemelajar abad ke-21.

Baca juga artikel:
Acara Tahunan: GemaFest

Copyright © Sekolah Gemala Ananda, dikembangkan dan dikelola oleh EvolutionTeams

.